Friday, June 15, 2012

Kalo Rahwana tidak pernah ada, Sri Rama mau ngapain??



Pertanyaan yang sama buat Green Goblin and Spiderman, atau Joker and Batman...

Ramayana merupakan kisah klasik yang menceritakan tentang Rama yang menyelamatkan istrinya, Shinta, yang diculik oleh Raja Raksasa, Rahwana. Walaupun lakon-lakonnya mengacu pada tulisan yang digubah sekian ratus tahun lalu tetapi kesamaan-kesamaan sikap dan perilakunya dapat ditemui dalam realitas saat ini. Dalam setiap lakon wayang selalu terdapat dua kubu positif dan negatif (mulai deh..), gambaran antara kebaikan dan kejahatan. Tokoh protagonis digambarkan sebagai dewa-dewi, santun, bijak dan rupawan. Sedangkan tokoh antagonis adalah raksasa yang kasar, bengis, dan buruk rupa.

Rama merupakan sosok ideal untuk merepresentasikan kebaikan, dengan jelas penokohan Rama yang santun, bijak, sakti dan rupawan mencerminkan nilai-nilai luhur, sedangkan Rahwana, sang Raja Raksasa yang bengis mewakili segala keburukan. Jika direfleksikan maka kita dapat menemukan sosok Rama atau Rahwana dalam perilaku kehidupan sehari-hari, tergantung nilai-nilai moral apa yang dianutnya.

Oleh karena nilai-nilai moral yang dianut manusia tersebut, maka tolok ukur perilaku manusia adalah baik dan buruk, dan dua hal tersebut akan selalu menjadi kontradiksi dalam kehidupan manusia (penegasan oposisi biner) . Dan hal yang ingin ditampilkan oleh epik Ramayana ataupun lakon-lakon lain dalam wayang adalah bahwa setiap kebaikan pasti (diakhir cerita) akan menang melawan kejahatan.

Kejahatan merupakan titik balik dari kebaikan, sehingga keduanya selalu berada dalam posisi yang berlawanan. Namun, apakah yang menyebabkan terciptanya kebaikan dan keburukan dalam diri manusia? Apakah hal tersebut bersifat “kodrati” atau merupakan bentukan dari lingkungan? Apabila dilihat dari kacamata konstruktivisme, maka kita akan melihat bagaimana kepentingan dan identitas seorang individu menentukan posisi mana yang akan dia pilih. Selain itu, terdapat faktor lain yaitu interaksi yang akan membentuk suatu persepsi bagaimana seharusnya individu bertindak.

Kebaikan atau kejahatankah yang akan dilakukan individu tergantung pada faktor-faktor di atas. Namun, kenapa manusia memilih untuk melakukan kejahatan? Jika manusia memang cenderung berbuat kejahatan seperti yang dikatakan Aristoteles, maka kenapa muncul nilai-nilai positif dalam diri individu itu sendiri? Dengan menarik garis antara kebaikan dan kejahatan, maka mungkin kita akan menemukan titik keseimbangan di mana akan tercipta sebuah tatanan moral.

Menurut Nietzsche, manusia merupakan mahkluk yang kontradiktif dan kompleks, yang secara emosional mampu untuk melakukan kejahatan-kejahatan namun secara bersamaan mampu untuk hidup dalam keadaan keutamaan (virtue). Keutamaan (baca: kebaikan) tidak akan menjadi nyata bila seandainya tidak memiliki alternatif yang berlawanan, yakni kejahatan.

Dalam lakon Ramayana, tokoh Rahwana memiliki kepentingan dan identitas yang menggambarkan sebab penculikan atas Shinta. Rahwana, raksasa yang terlahir dengan sepuluh kepala, memutuskan untuk melakukan pertapaan selama 1000 tahun, dan setiap 100 tahun, ia akan memenggal satu dari kepalanya dengan tujuan untuk mengurangi unsur jahat dalam dirinya. Ketika kepala terakhir akan dipenggalnya, para dewa melarang dengan alasan bahwa Rahwana adalah penyeimbang dunia dan imbalannya ia dijanjikan seorang dewi yaitu Dewi Setiowati. Dan Shinta adalah titisan dari Dewi Setiowati tersebut, sehingga membuat Rahwana merasa berhak atas Shinta dan kemudian membawanya secara paksa.

Rahwana sebagai penyeimbang dunia yang dengan kejahatannya akan memunculkan kebaikan yang diusung oleh Rama.Jika kejahatan atau kebaikan adalah kodrati, maka kita tidak akan mempunyai kebebasan untuk memilih berbuat baik atau jahat. Namun, bila kita menganggap bahwa baik dan buruk merupakan bentukan dari struktur, maka bagaimana kita menjelaskan bahwa dalam struktur yang keji sekalipun masih terdapat kebaikan, seperti Wibisana, adik Rahwana yang dengan gagah berani menentang maksud jahat dari sang Raja dan menolong Rama dalam mengalahkan Alengka dan membebaskan Shinta.

Menurut teori konstruktivist, dalam mencapai suatu kepentingan, maka dimungkinkan adanya perubahan identitas yang dipengaruhi oleh interaksi dalam sistem lingkungannya. Identitas bisa berubah dari teman menjadi lawan. Maka di sini konstruktivist mencoba memberi penjelasan mengenai bagaimana memahami kedua sisi yang berlawanan dengan suatu pemaknaan yang menaungi keduanya.

Rahwana selalu ada di mana pun lakon Rama diperankan. Keberadaan keduanya memungkinkan terciptanya sebuah alur utama dari cerita, yang mana untuk menciptakan kebaikan maka harus terlebih dahulu tercipta kejahatan, ataupun sebaliknya. Bahkan Rama sendiri pun harus melakukan hal keji dengan memberikan ujian membakar diri pada Shinta untuk membuktikan kesuciannya setelah ia dibebaskan dari cengkraman Rahwana. Hal ini semakin memberikan gambaran bahwa antara baik dan buruk, terdapat ritme tertentu yang akan menciptakan sebuah keseimbangan dalam kehidupan manusia.

Adanya kebaikan dan keburukan perlu dipahami sebagai suatu keseimbangan dari sebuah kesatuan sistem, dan kesatuan alam mempunyai mekanismenya sendiri. Dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Kejahatan harus selalu ada, agar muncul nilai-nilai kebaikan yang akan menyeimbangkannya.Di sini, nilai-nilai kebenaran menjadi solusi atas masalah yang timbul akibat dari kejahatan..

Socrates mengatakan bahwa mereka yang berusaha mencapai kepentingannya dengan menginjak-injak orang lain sebenarnya mereka membawa kerusakan yang hampir tidak dapat diperbaiki pada kepentingan mereka yang paling utama, yakni kebaikan jiwa mereka. Singkatnya, orang yang berbuat jahat dan bersikap tidak adil sebenarnya merusak jiwa mereka sendiri. 

Maka dapat disimpulkan bahwa pencapaian hakiki manusia terhadap kebaikan adalah dengan menghapus kejahatan dalam dirinya sendiri, tanpa melupakan kewajibannya sebagai bagian dari masyarakat sosial.

Kalo Rahwana tidak pernah ada, Sri Rama mau ngapain?? Ya terserah Sri Rama dong, emang masalah buat loh..!!, tetapi yang jelas cerita Ramayana akan terdengar sangat membosankan.

That's all

0 comments:

Post a Comment