Wednesday, May 2, 2012

(katanya) Hari pendidikan Nasional



Hari ini 2 Mei, Hari pendidikan Nasional.

Ibu kita telah mati. Ibu kita telah mati. Sejak televisi, mengajarkan budi pekerti. Tentang bagaimana membunuh dengan hati-hati. Dan memamerkan aurat tanpa rasa nyeri. Ibu kita telah mati. Ibu kita telah mati. Ketika kita diam-diam memompa keras jantungnya dan menyibak rahimnya dengan memoles gincu ke bibir anak perempuan yang belajar melirik dengan genit. 

Bukankah kita telah membunuhnya. Ketika di sekolah-sekolah anak-anak kita biarkan diajar ilmu pengetahuan yang hanya di luar batok kepala mereka. Lalu kita penjarakan mereka dari hasrat merenungi kehidupan. Seperti kupu-kupu belajar menggapai cakrawala. Ibu kita telah mati ketika kita gamang dan kehilangan kesadaran hidup. Dan diam-diam merencanakan bunuh diri.*

Sosok ibu sebagai guru pertama dan utama, sampai kapan?

*diambil dari buku catatan waktu kuliah


 Hari ini  juga bertepatan sama Hari ulang tahun Semarang, tempat lahir, kecil sampe gede.
Piye Jal??


Ngomongin Sastra # 1


Teori sastra bukan secara khusus diciptakan untuk berbicara tentang sastra, tapi mengenai hidup dan kehidupan.
Sastra muncul sebagai agama baru setelah kegagalan kristen di Era Elizabeth. Pada periode yang lain sastra digunakan sebagai media kampanye bagi kaum buruh dan Aristokrat di inggris.
Seseorang bisa ke China, merasakan menyentuh Tembok Besar hanya dengan membaca. Sastra adalah materi real yang mempunyai unsur dan elemen pembentuk. Ada yang mengatakan bahwasannya sastra itu objective. Sastra adalah nilai dengan efek peng-asing-an, sastra seperti udara, yang kita hirup tanpa menyadarinya, yang baru terasa ketika memadat dan terkontaminasi. Sastra yaitu bahasa special yang dipengaruhi oleh kelas, gender, daerah dan status.
Sastra tercipta karena adanya kepolosan dan kelugasan; Sastra ada karena keter-asing-an materi.  Sastra didefinisikan terserah pada cara membacanya. Membaca tulisan sama artinya dengan menghubungkan dirinya dengan tulisan. Sastra bukanlah tulisan yang bagus dan baik, akan tetapi dianggap bagus dan baik.
Sastra besar (karya) diciptakan oleh orang tertentu, untuk alasan tertentu, pada masa tertentu.
Objek adalah tentang apa yang kita maksudkan.
Itu dulu, regards.

Tuesday, May 1, 2012

Pilih KontRAk ato BeBas toMBak????


Possting kali ini tetep ngomongin penulis di tipi, (baca posting sebelumnya, sebelumnya, dan sebelumnya lagi). Bisa penulis naskah, sekenario, program, semuanya deh yang ada hubungannya ama tulis menulis di industri pertipian. Hallaaaaahhh...
Let’s play the show....
Penulis Kontrak dan Penulis Tetap bisa dilihat dari status pekerjaannya, ada perbedaan antara penulis Kontrak dan Penulis Tetap. Penulis Tetap biasanya adalah karyawan tipi itu sendiri yang ditugasin nulis berbagai macam naskah acara, hanya pada stasiun tipi tempatnya bekerja. Kewajiban sebagai karyawan tetap tentunya diatur berdasarkan perjanjian yang diatur oleh bagian HRD, tau HRD apaan? Buka kamus, perusahaan dan karyawan itu sendiri. Di tiap stasiun tipi, penulis tetep dapat penghasilan dari gaji dan reward berupa bonus kalo acara yang ditulisnya punya rating dan share yang tinggi.
Penulis Kontrak adalah pekerja freelance, free itu bebas lance tu tombak, jadinya tombak bebas,haalllaaahhhh..... yang dikontrak stasiun tipi dalam jangka waktu atau jumlah unit episode tertentu. Ia dapat bayaran berdasarkan nilai kontrak yang udah disepakati. Perjanjian kerja sama dilakukan oleh Manajer Departemen Produksi atau Presiden Direktur stasiun tipi dengan penulis skenario kontrak itu sendiri. Layaknya seorang penulis tombak bebas ato bebas tombak ato freelance, ia bisa kerja dimana aja dalam satu kesatuan waktu yang bersamaan. Tetapi ia wajib nyelesaiin segala macam kerjaan berdasarkan kontrak yang disepakati. Reputasi penulis skenario freelance (baca: bebas tombak) dibangun berdasarkan ketepatan kerja dan kualitas karya yang dihasilkan. Semakin tepat dan berkualitas, otomatis namanya akan terkenal di dunia tipi dan berakibat positif, membanjir sampe Tsunami sehingga banyak kerjaan menulis untuknya.

Soal pilihan jadi karyawan tetap atau pekerja tombak bebas (freelance), terserah kepada pribadi masing-masing. Tetapi atas nama kebebasan waktu dan tantangan dan Cinta (capek deh) berkarya dan bekerja, banyak penulis skenario lebih suka pake sistem kontrak dibandingin jadi karyawan tetap. Namun perlu dipahami, bahwa jalan panjang penuh aral rintang onak dan duri juga paku. Baik paku baja , besi ataupun paku payung (apaan sih!!) buat jadi seorang penulis skenario yang dikontrak secara profesional, butuh ketekunan dan kreatifitas tanpa batas.Catet!!! Persaingan di dunia kreatifitas sangat tinggi, banyak penulis skenario yang terjungkal (cie?!!), kesandung karena tidak bisa menjaga kualitas tulisannya. Namun tidak sedikit yang berhasil, karena selalu belajar menghadapi badai, topan, gempa bumi perkembangan industri tayangan tipi secara rutin.
That’s it lesson for today.bye....

TEROR (-ISME)


Posting ini adalah tugas Pendidikan Kewarganegaraan teman saya yang saya copy paste (Hallah, apa iya? Iya bener. Saya tidak bohong. Saya posting karena saya anggap penting untuk dishare. Yuk simak. (Hallah....)
Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono mengingatkan, terorisme muncul akibat benturan global antara dua ideologi besar saat ini, liberalisme demokrasi dan fundamentalisme agama. Alih-alih memunculkan proses dialektika, keduanya malah justru berupaya saling memerangi dan menghancurkan.
Sementara pelaku teror (teroris), menurut Hendropriyono, sangat mudah ditandai sebagai orang yang memiliki kepribadian yang terbelah (split personality) dan juga kegalatan kategori (category mistake) sehingga menganggap apa yang dilakukan sebagai kebenaran.
Dia menambahkan, bentuk kepribadian yang terbelah bisa mudah dikenali. Bahasa yang digunakan dalam terorisme terbelah dalam dua tata permainan bahasa, mengancam dan mendoakan. Dalam konteks ini, terorisme jadi tidak membedakan antara mantan Presiden Amerika Serikat George W Bush dan pemimpin Al Qaeda Osama Bin Laden. "Keduanya menurut saya sama-sama teroris," ujar Hendropriyono.
Bagaimana tidak, dalam menjalankan aksi terornya, Al Qaeda juga melancarkan ancaman untuk membunuh orang-orang yang menurut mereka pantas dibunuh dan di sisi lain mereka mengklaim dan mendoakan perbuatan tersebut sebagai direstui Tuhan.
Hal senada juga dilakukan George W Bush, yang tidak hanya mengutuk tetapi juga memerangi orang atau kelompok yang mereka anggap sebagai teroris, dengan menggunakan serangan bersenjata, seperti di Afganistan dan Pakistan, negara-negara yang dicurigai menjadi basis Al Qaeda.
Dalam melancarkan aksi serangan bersenjatanya pun, pihak AS, dalam pernyataan Bush, mendoakan serta meyakini apa yang dilakukan direstui oleh Tuhan. Dalam konteks itu lah, menurut Hendropriyono, antara Bush dan Laden, sama-sama teroris.
Setelah komunisme jatuh, seluruh dunia sekarang gandrung akan demokrasi. Sayangnya, proses demokrasi oleh negara besar seperti AS dilakukan dengan tidak etis dengan melupakan komitmen damai. Dalam konteks itulah muncul kemudian fundamentalisme agama, yang digunakan untuk kepentingan politik, ujar Hendropriyono.
Lebih lanjut dalam kesempatan itu, Hendropriyono mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak terjebak dalam perbenturan kedua ideologi tadi. Baik liberalisme demokrasi maupun fundamentalisme agama diyakini tidak akan pernah menemui titik temu.
Agar Indonesia tidak ikut terjebak dalam peperangan kedua ideologi tadi, Hendropriyono mengingatkan satu-satunya cara adalah dengan memperkuat kembali dan merevitalisasi ideologi serta filosofi pemersatu bangsa, Pancasila. Dengan begitu Pancasila bisa menjadi filter terhadap nilai dan filosofi yang tidak sesuai dengan kultur serta identitas bangsa Indonesia.
Seperti pada masa perang dingin di mana terdapat koeksistensi ideologi masing-masing bangsa, termasuk kita dengan ideologi sendiri, sehingga semua bangsa bisa hidup dengan damai. Tidak ada terorisme, ujar Hendropriyono.
Namun, tambah Hendropriyono, jika bangsa Indonesia malah memilih salah satu dari dua ideologi besar yang sekarang tengah berbenturan, maka Indonesia hanya akan menjadi bagian dari peperangan di antara keduanya.
Lebih lanjut sebagai tindak kejahatan yang tidak tunduk pada aturan apa pun karena nilai kebenaran diyakini berada di dalam diri para teroris, paham terorisme menurut Hendropriyono harus diberantas.
Namun, diakui hal itu tidak mudah mengingat terorisme dalam penggambaran Hendropriyono, seperti monster imajiner mitologi Yunani, Hydra, atau mitologi pewayangan, Candabirawa, yang sama-sama berbentuk makhluk ganas yang akan selalu muncul dan tumbuh menjadi banyak setiap kali dibunuh.
Tulisan ini dimaksudkan bukan untuk menghina atau pun mengajak pada ideologi tertentu, akan tetapi lebih bersifat informatif.Kalau ditanya tentang ideologi saya sendiri penganut ideologi kebenaran. Kebenaran yang mana? 
Ayo bareng-bareng kita cari. Kalau bisa bareng ngapain sendiri-sendiri, hitung-hitung hemat ongkos and bensin.